NIAS-Harga kebutuhan pokok melonjak tinggi di Kepulauan Nias. Pemerintah daerah diminta segera lakukan stabilisasi harga agar angka inflasi tak makin memburuk.
Inflasi bulanan Kota Gunungsitoli mencapai 6,94 persen, menjadi yang tertinggi di antara seluruh daerah Indeks Harga Konsumen di Sumut.
Lonjakan harga di Nias terjadi ketika sejumlah wilayah lain justru dilanda banjir. Inflasi bulanan Gunungsitoli jauh melampaui rata-rata inflasi Sumut yang 1,66 persen dan melampaui inflasi kumulatif Sumut sepanjang 2025 yang tercatat 4,66%.
Tekanan harga di Nias dipicu terputusnya jalur distribusi barang dan jasa akibat bencana di kawasan Tapanuli, termasuk Kota Sibolga. Gangguan distribusi dari daratan Sumatera langsung berdampak pada ketersediaan dan harga bahan pokok di wilayah kepulauan tersebut.
Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara, Gunawan Benjamin menilai inflasi ekstrim di Nias menjadi peringatan keras bagi pemerintah daerah.
“Ketergantungan pasokan dari luar membuat Nias selalu paling terpukul setiap kali distribusi terganggu,” katanya, Selasa (6/1/2026) yang dikutip dari mediaindonesia.com.
Menurut dia, situasi ini menunjukkan perlunya terobosan kebijakan yang lebih mendasar untuk membangun kemandirian pangan. Pemerintah daerah dinilai perlu membuka ruang investasi sektor pangan.
Mulai dari peternakan ayam, telur, sapi hingga komoditas strategis lain yang selama ini didatangkan dari luar. Selain investasi, masyarakat juga perlu didorong terlibat langsung dalam produksi pangan. (*)













