JEMBER-Pemerintah Kabupaten Jember berupaya memperkuat kualitas layanan kesehatan ibu dan anak melalui Program Magang Kopi Manis 4.0 yang digelar di Rumah Sakit Daerah (RSD) Kalisat, Jumat (5/6/2026). Program ini dirancang untuk meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan puskesmas dalam menangani kegawatdaruratan maternal dan neonatal sekaligus memperkuat sistem rujukan layanan kesehatan.
Kepala Bidang Pengembangan Kompetensi Aparatur Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Jember, Artiantyo Wirjo Utomo, mengatakan Kopi Manis merupakan model pengembangan kompetensi aparatur sipil negara (ASN) yang mengedepankan pembelajaran berbasis praktik lapangan.
“Kopi Manis 4.0 bukan sekadar pelatihan di ruang kelas. Kami ingin peserta belajar dari praktik nyata, melihat langsung bagaimana penanganan kasus di rumah sakit, membangun koordinasi, dan memahami alur pelayanan secara utuh,” ujar Artiantyo.
Kopi Manis merupakan akronim dari Kolaborasi Pengembangan Kompetensi melalui Magang Antar Instansi. Program ini mengadopsi pendekatan pembelajaran yang menempatkan pengalaman kerja sebagai porsi terbesar, yakni 70 persen experiential learning, didukung 20 persen social learning dan 10 persen formal learning.
Melalui pendekatan tersebut, peserta tidak hanya menerima materi teoritis, tetapi juga mengikuti simulasi, observasi pelayanan, praktik klinis terbimbing, diskusi kasus, hingga refleksi pembelajaran berdasarkan pengalaman nyata di fasilitas kesehatan.
Pada pelaksanaan kali ini, tema yang diangkat adalah penguatan kompetensi kegawatdaruratan maternal dan neonatal. Fokusnya mencakup peningkatan kemampuan tenaga kesehatan dalam menangani kondisi darurat pada ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, dan bayi baru lahir.
Menurut Artiantyo, penguatan kompetensi tersebut menjadi kebutuhan penting karena tenaga kesehatan di puskesmas merupakan garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat.
“Ketika tenaga kesehatan di fasilitas layanan primer mampu melakukan asesmen awal, stabilisasi pasien, dan koordinasi rujukan secara tepat, peluang keselamatan ibu dan bayi akan semakin besar,” katanya.
Hingga memasuki tahap keempat, Program Kopi Manis telah dilaksanakan di tiga rumah sakit daerah di Kabupaten Jember dengan melibatkan 50 puskesmas dan 256 dokter, bidan, serta tenaga kesehatan lainnya.
Khusus di RSD Kalisat, peserta berasal dari 11 puskesmas jejaring, yakni Puskesmas Kalisat, Ledokombo, Silo I, Silo II, Sumberjambe, Mayang, Pakusari, Sukowono, Jelbuk, Arjasa, dan Mumbulsari. Mereka terdiri atas dokter dan bidan yang sehari-hari bertugas memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak di wilayah masing-masing.
Dalam program ini, RSD Kalisat berperan sebagai wahana pembelajaran praktik klinis. Para peserta memperoleh kesempatan mempelajari secara langsung tata laksana kegawatdaruratan maternal dan neonatal, alur pelayanan rumah sakit, hingga mekanisme koordinasi rujukan.
Rumah sakit juga menyiapkan pembimbing klinis, instruktur, narasumber, lokasi praktik, simulasi kasus, observasi pelayanan, serta evaluasi keterampilan peserta selama masa magang.
Artiantyo menjelaskan, keterlibatan dokter, bidan, dan tenaga kesehatan lainnya dalam satu program menjadi penting karena penanganan kasus kegawatdaruratan tidak dapat dilakukan secara parsial.
“Pelayanan maternal dan neonatal membutuhkan kerja tim yang solid. Mulai dari deteksi dini di puskesmas, stabilisasi pasien, hingga proses rujukan ke rumah sakit harus berjalan dalam satu sistem yang terintegrasi,” ujarnya.
Program tersebut juga melibatkan Dinas Kesehatan Kabupaten Jember sebagai pembina teknis sektor kesehatan serta Program Studi Kebidanan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Malang Kampus I Jember sebagai pendamping akademik.
Kolaborasi lintas institusi itu, menurut Artiantyo, menjadi salah satu kekuatan utama Kopi Manis karena menghubungkan pengembangan kompetensi ASN dengan kebutuhan nyata pelayanan publik.
Bagi puskesmas, peserta yang telah mengikuti magang diharapkan menjadi agen pembelajaran di unit kerjanya masing-masing sehingga pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat ditransfer kepada tenaga kesehatan lain. Sementara bagi rumah sakit, program tersebut memperkuat peran sebagai pusat rujukan sekaligus pusat pembelajaran bagi jejaring layanan kesehatan di wilayahnya.
Pada akhirnya, manfaat terbesar diharapkan dirasakan masyarakat, terutama ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, dan bayi baru lahir yang membutuhkan layanan kesehatan cepat, tepat, dan aman.
“Pengembangan kompetensi ASN harus menghasilkan perubahan nyata. Ukurannya bukan hanya sertifikat pelatihan, tetapi bagaimana kompetensi yang diperoleh mampu meningkatkan kualitas layanan yang diterima masyarakat,” kata Artiantyo. (rus)













