KUANSING–Di tengah kondisi ekonomi yang semakin menantang, sebagian masyarakat berpenghasilan rendah di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) masih menggantungkan hidup dari aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI). Bagi mereka, pekerjaan tersebut menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan keluarga di tengah sulitnya mencari lapangan pekerjaan.
Salah seorang warga Kuansing, sebut saja Udin, mengaku telah bertahun-tahun bekerja menggunakan dompeng. Menurutnya, penghasilan yang diperoleh tidaklah besar seperti yang selama ini dibayangkan sebagian orang.
“Saya sudah bertahun-tahun bekerja dompeng. Hasilnya hanya cukup untuk kebutuhan rumah tangga dan biaya sekolah anak-anak. Saya memiliki empat anak, dua laki-laki dan dua perempuan, yang semuanya masih bersekolah, mulai dari SD, SMP hingga SMA,” ujar Udin, Selasa (9/6/2026).
Ia menegaskan, pekerjaan tersebut tidak membuatnya menjadi orang kaya. Namun, penghasilan yang diperoleh masih bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarganya.
“Pekerjaan dompeng ini memang tidak membuat saya kaya, tetapi masih cukup untuk kebutuhan keluarga. Besar ataupun kecil rezeki yang didapat, yang paling penting adalah mensyukurinya,” katanya.
Menurut Udin, ada beberapa rekannya sesama pekerja dompeng yang telah mampu membeli kendaraan baru maupun membangun rumah. Namun, kondisi ekonomi setiap keluarga berbeda-beda.
“Mungkin kebutuhan mereka masih lebih kecil karena anaknya masih sedikit dan masih kecil-kecil. Kalau saya sekarang sudah berusia 40 tahun dan memiliki empat anak yang semuanya masih sekolah, tentu kebutuhan semakin besar,” ungkapnya.
Ia berpesan kepada generasi muda agar memanfaatkan masa produktif dengan baik dan mampu mengelola keuangan secara bijak.
“Pesan saya kepada anak-anak muda, berusahalah selagi muda dan pandai-pandailah menyimpan uang. Masa muda tidak datang dua kali. Ketika usia bertambah dan tanggungan keluarga semakin banyak, kebutuhan juga akan semakin tinggi,” tuturnya.
Udin juga membantah anggapan seluruh pekerja dompeng memperoleh pendapatan besar. Menurutnya, penghasilan harian yang diterima sering kali hanya berkisar antara Rp150 ribu hingga Rp200 ribu.
“Gaungnya memang besar seolah-olah pekerja dompeng berpenghasilan tinggi. Padahal di lapangan, kadang hanya dapat Rp150 ribu sampai Rp200 ribu per hari. Kalau sudah dibelikan beras, cabai dan minyak goreng, uangnya tinggal sedikit,” katanya.
Ia menilai sulitnya memperoleh pekerjaan menjadi alasan banyak masyarakat tetap bertahan pada pekerjaan tersebut. Menurutnya, fenomena pengangguran juga terjadi di berbagai daerah karena terbatasnya lapangan kerja.
“Sekarang mencari pekerjaan sangat sulit. Kita lihat di kota-kota besar juga banyak pengangguran. Bukan karena mereka tidak mau bekerja, tetapi lapangan pekerjaannya yang terbatas. Bahkan untuk melamar pekerjaan sering kali harus memiliki kenalan,” ujarnya.
Meski demikian, Udin bersyukur tinggal di pedesaan karena masih banyak kebutuhan yang bisa diperoleh langsung dari alam.
“Kalau di kampung, tidak semua harus dibeli. Sayur bisa dicari sendiri, seperti pucuk ubi dan paku-pakuan. Untuk lauk, kita masih bisa memasang jaring atau tajur untuk menangkap ikan,” pungkasnya. (ridho)













