Berita  

H. Arisal Aziz: Narkoba Harus Dilawan dari Kampung dan Keluarga

PADANG — Penghargaan yang diterima Anggota Komisi XIII DPR RI Daerah Pemilihan Sumatera Barat II dari Fraksi PAN, H. Arisal Aziz, sebagai Tokoh Masyarakat yang Aktif dalam Program Anti Narkoba, menjadi penegasan bahwa perang melawan narkoba tidak cukup dilakukan melalui penindakan semata.

Menurut Arisal Aziz, penyelamatan generasi muda dari bahaya narkoba harus dimulai dari lingkungan paling dekat, yakni keluarga, kampung, nagari, sekolah, dan ruang pergaulan masyarakat.

“Bagi saya, penghargaan ini bukan akhir dari sebuah kerja, tetapi pengingat bahwa perjuangan melawan narkoba harus terus diperluas. Narkoba tidak boleh diberi ruang di kampung-kampung kita, di nagari kita, dan di tengah kehidupan anak-anak muda Sumatera Barat,” ujar Arisal Aziz.

Penghargaan tersebut diterima Arisal Aziz pada momentum Peringatan Hari Bhayangkara ke-80 tingkat Sumatera Barat. Apresiasi itu diberikan atas komitmen dan kontribusinya dalam mendukung program pencegahan narkoba melalui gerakan sosial kemasyarakatan, termasuk inisiasi pembentukan Kampung Anti Narkoba di Sumatera Barat.

Arisal menilai, ancaman narkoba hari ini tidak hanya merusak individu, tetapi juga mengganggu masa depan keluarga, ketahanan sosial masyarakat, dan kualitas generasi penerus bangsa. Karena itu, gerakan anti narkoba harus dibangun sebagai gerakan bersama yang melibatkan aparat kepolisian, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, pemuda, dan keluarga.

“Kalau hanya polisi yang bergerak, tentu tidak cukup. Masyarakat juga harus menjadi bagian dari benteng pertahanan. Orang tua harus peduli, pemuda harus saling menjaga, tokoh masyarakat harus berani mengingatkan, dan nagari harus menjadi ruang yang aman bagi generasi muda,” katanya.

Sebagai tokoh masyarakat sekaligus Anggota Komisi XIII DPR RI, Arisal Aziz menegaskan bahwa program anti narkoba harus terus diperkuat dengan pendekatan pencegahan, edukasi, pembinaan, dan pendampingan sosial. Menurutnya, pemberantasan narkoba tidak boleh hanya hadir setelah korban berjatuhan, tetapi harus dimulai sebelum anak-anak muda terjerumus.

Ia juga menekankan pentingnya Kampung Anti Narkoba sebagai model gerakan berbasis masyarakat. Program tersebut, kata Arisal, harus menjadi ruang bersama untuk membangun kesadaran, memperkuat pengawasan sosial, dan menciptakan lingkungan yang menolak peredaran maupun penyalahgunaan narkoba.

“Kampung Anti Narkoba jangan hanya menjadi papan nama. Ia harus hidup sebagai gerakan. Ada edukasi, ada kepedulian, ada pengawasan, dan ada keberanian masyarakat untuk melindungi anak-anak muda dari pengaruh buruk narkoba,” tegasnya.

Arisal Aziz juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran Polda Sumatera Barat yang terus membuka ruang kolaborasi dengan masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketertiban daerah. Menurutnya, semangat Hari Bhayangkara harus menjadi momentum memperkuat hubungan antara Polri dan masyarakat, khususnya dalam menghadapi ancaman narkoba yang semakin kompleks.

“Saya menyampaikan terima kasih kepada Polda Sumbar atas penghargaan ini. Namun yang lebih penting dari penghargaan adalah kerja bersama ke depan. Kita ingin Sumatera Barat tidak hanya aman secara hukum, tetapi juga sehat secara sosial dan kuat secara moral,” ucapnya.

Ia berharap semakin banyak elemen masyarakat di Sumatera Barat yang ikut terlibat dalam gerakan anti narkoba. Menurutnya, masa depan daerah sangat bergantung pada keberhasilan bersama dalam menjaga generasi muda dari peredaran gelap narkotika.

“Anak-anak muda Sumatera Barat adalah masa depan kita. Mereka harus diselamatkan, dibimbing, dan diberi ruang untuk tumbuh dalam lingkungan yang baik. Melawan narkoba adalah tanggung jawab bersama, dan perjuangan ini harus dimulai dari kampung, dari keluarga, dan dari kepedulian kita semua,” tutup Arisal Aziz. (HN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *