Di tengah laju pembangunan dan semakin terbatasnya lahan pemukiman, tantangan untuk memenuhi kebutuhan pangan mandiri kini mulai merambah hingga ke tingkat rumah tangga.
Tidak semua keluarga memiliki halaman luas untuk membuat kolam ikan atau kebun sayur konvensional. Masalah ini sering kali membuat masyarakat bergantung sepenuhnya pada pasar untuk memenuhi kebutuhan protein dan sayuran segar, yang harganya kian fluktuatif.
Namun, keterbatasan lahan bukanlah penghalang untuk tetap produktif. Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Nagari Kurai Taji Timur, Padang Pariaman, muncul sebuah inovasi praktis yang menjadi jawaban atas tantangan tersebut yaitu Budikdamber (budidaya ikan dalam ember).
Teknik ini mengadopsi prinsip akuaponik sederhana yang memungkinkan masyarakat memelihara ikan sekaligus menanam sayur dalam satu wadah yang sama.
Konsep “satu ember dua panen” bukan sekadar slogan. Dalam satu siklus pemeliharaan, warga tidak hanya bisa memanen ikan sebagai sumber protein hewani, tetapi juga sayuran organik seperti kangkung atau pakcoy yang tumbuh subur di bagian atas ember.
Menariknya, metode ini sangat hemat air, tidak memerlukan lahan luas, dan bisa dilakukan oleh siapa saja, mulai dari ibu rumah tangga hingga pemuda desa.
Proses pembuatan Budikdamber dimulai dengan persiapan alat dan bahan yang sangat terjangkau, di mana komponen utamanya adalah ember plastik berukuran 60 liter dan gelas plastik bekas sebagai wadah tanaman.
Langkah awal dilakukan dengan melubangi bagian bawah gelas plastik dan mengisinya dengan media tanam berupa arang kayu atau kawat pengait, lalu bibit sayuran seperti kangkung diletakkan di dalamnya.
Gelas-gelas ini kemudian digantungkan di sekeliling bibir ember yang telah dilubangi sedikit di bagian atasnya sebagai saluran pembuangan air otomatis saat hujan.
Sebelum benih ikan dimasukkan, air di dalam ember perlu didiamkan selama satu hingga dua hari agar kandungan kaporit hilang atau bisa juga menggunakan air sungai jika tidak ingin mendiamkan air biasa serta mendiamkan air dapat membuat suhu air menjadi stabil bagi kehidupan ikan.
Setelah air siap, barulah sekitar 10 hingga 15 ekor benih ikan lele dimasukkan secara perlahan ke dalam ember yang telah dipasangi instalasi sayuran di atasnya.
Metode ini menawarkan segudang manfaat yang menjadikannya solusi cerdas bagi masyarakat di lahan terbatas. Keunggulan utamanya terletak pada konsep dua kali panen dalam satu wadah, di mana warga bisa memanen sayuran organik dalam waktu singkat sekaligus membesarkan ikan sebagai sumber protein hewani.
Selain efisien secara lahan, Budikdamber juga sangat hemat air dan ramah lingkungan karena kotoran ikan secara alami berubah menjadi nutrisi bagi tanaman, sehingga warga tidak perlu lagi membeli pupuk kimia tambahan.
Secara ekonomi, inovasi ini membantu keluarga menekan pengeluaran belanja harian karena kebutuhan sayur dan lauk pauk sudah tersedia tepat di teras rumah.
Dengan perawatan yang relatif mudah, Budikdamber bertransformasi menjadi aset ekonomi produktif yang mendukung ketahanan pangan mandiri tanpa harus memiliki kolam yang luas atau kebun yang lebar.
Pada akhirnya, keterbatasan lahan maupun modal bukanlah penghalang bagi kita untuk hidup lebih mandiri dan sehat. Kehadiran program Budikdamber di Nagari Kurai Taji Timur, Kabupaten Padang Pariaman membuktikan bahwa inovasi sederhana, jika diterapkan dengan ketekunan, mampu memberikan dampak nyata bagi pemenuhan gizi keluarga.
Dengan hanya memanfaatkan satu ember, kita tidak hanya belajar tentang teknik budidaya, tetapi juga tentang cara menghargai proses pangan yang kita konsumsi sehari-hari. Mari kita mulai mengubah sudut-sudut kosong di teras rumah menjadi sumber pangan yang produktif.
Sebab, kemandirian pangan yang sesungguhnya tidak harus dimulai dari langkah yang besar, melainkan dari satu ember di depan rumah kita sendiri. Selamat mencoba dan selamat memanen manfaatnya! (Mahasiswa KKN Kurai Taji Timur, Universitas Andalas)