Kesehatan mata merupakan salah satu aspek penting yang mendukung keberhasilan proses belajar anak usia sekolah. Pada jenjang kelas 6 sekolah dasar, tuntutan dari akademik tentunya semakin meningkat. Sehingga, kemampuan melihat dengan jelas menjadi faktor krusial agar siswa dapat mengikuti pembelajaran secara optimal.
Namun, gangguan penglihatan pada anak sering kali sulit untuk dikenali. Banyak dari siswa tetap beraktivitas seperti biasa meskipun mengalami penurunan ketajaman penglihatan yang mana anak cenderung menganggap yang ia alami merupakan hal yang normal sehingga tidak menyampaikan kondisi yang mereka alami.
Akibatnya, gangguan penglihatan dapat berlangsung cukup lama tanpa terdeteksi dengan potensi menghambat proses belajar anak. Kegiatan skrining mata yang dilaksanakan pada siswa kelas 6 di SDN 13 Padang Ganting, Kabupaten Tanah Datar dilakukan sebagai upaya deteksi dini dan bagian dari program pengabdian yang dilakukan mahasiswa Universitas Andalas melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) 2026 yaitu kegiatan SIGAP Go To School.
Sasaran dari kegiatan ini adalah siswa kelas 6 Sekolah Dasar yang mana rentang usia nya 11-13 tahun yang mana memerlukan perhatian khusus menjelang transisi ke jenjang pendidikan berikutnya.
Skrining mata ialah pemeriksaan awal yang dilakukan untuk menilai ketajaman penglihatan atau visus menggunakan Snellen chart pada jarak tertentu. Pemeriksaan ini bersifat sederhana, tidak invasif, aman serta dapat dilakukan dalam waktu singkat sehingga sesuai diterapkan di lingkungan sekolah.
Pelaksanaan skrining dilakukan secara bergiliran oleh mahasiswa KKN dengan menyesuaikan kondisi anak agar siswa merasa nyaman selama proses pemeriksaan berlangsung. Kegiatan tetap memiliki peran penting sebagai langkah awal dari pemantauan untuk memastikan fungsi penglihatan siswa terjaga dengan baik, sehingga skrining menjadi sarana penting untuk mengenali indikasi yang memerlukan pemeriksaan lanjutan sejak dini.
Kondisi penglihatan yang kurang optimal dapat berdampak pada kenyamanan dan efektivitas belajar. Siswa mungkin mengalami kesulitan membaca tulisan di papan tulis, menurunnya konsentrasi, hingga berkurangnya motivasi belajar. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mempengaruhi prestasi akademik apabila tidak ditangani dengan tepat. Melalui skrining mata, hasil pemeriksaan dapat menjadi dasar bagi orang tua untuk melakukan pemeriksaan lanjutan ke tenaga kesehatan apabila diperlukan.
Selain pemeriksaan, kegiatan skrining mata juga disertai edukasi singkat mengenai pentingnya menjaga kesehatan mata. Siswa diberikan pemahaman tentang kebiasaan membaca dengan pencahayaan yang cukup, menjaga jarak pandang saat membaca atau menggunakan gawai, serta pentingnya mengistirahatkan mata setelah aktivitas visual dalam waktu lama.
Edukasi ini menjadi semakin relevan mengingat meningkatnya penggunaan gawai pada anak usia sekolah yang berpotensi menyebabkan kelelahan mata apabila tidak diimbangi dengan kebiasaan yang sehat.
(Tiara Ardia, Mahasiswa KKN Reguler 1 UNAND 2026 dan salah satu mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Andalas)
