TANAH DATAR-Mahasiswa kuliah kerja nyata (KKN) Reguler I Padang Ganting melaksanakan program kerja pembuatan silase jerami di Jorong Rajo Dani sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat di bidang pertanian dan peternakan.
Program ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan serta keterampilan masyarakat dalam mengelola pakan ternak secara efektif, efisien, dan berkelanjutan khususnya dalam menghadapi keterbatasan pakan pada musim kemarau dan musim paceklik.
Selama ini sebagian besar peternak di Jorong Rajo Dani masih mengandalkan hijauan segar sebagai sumber utama pakan ternak. Ketergantungan tersebut sering menimbulkan permasalahan ketika ketersediaan rumput menurun akibat cuaca ekstrem.
Padahal, wilayah ini memiliki potensi limbah pertanian seperti jerami padi, rumput liar, dan tebon jagung yang melimpah namun belum dimanfaatkan secara optimal.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN Reguler I Padang Ganting menghadirkan program silase jerami sebagai solusi alternatif pakan ternak yang bernilai guna tinggi.
Silase merupakan pakan ternak berkualitas yang dibuat dengan cara mengawetkan hijauan segar melalui proses fermentasi anaerob atau tanpa oksigen.
Proses ini memungkinkan nutrisi pada hijauan tetap terjaga dan dapat disimpan dalam jangka waktu yang relatif lama. Dengan adanya silase peternak tidak lagi bergantung sepenuhnya pada ketersediaan hijauan segar setiap hari, sehingga manajemen pakan ternak menjadi lebih terencana.
Kegiatan ini diawali dengan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pengertian silase, manfaatnya bagi ternak serta keunggulannya dibandingkan pakan konvensional.
Mahasiswa KKN juga menjelaskan potensi bahan baku lokal yang dapat digunakan sehingga masyarakat dapat memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar lingkungan mereka tanpa harus mengeluarkan biaya besar.
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan silase meliputi jerami, rumput, atau tebon jagung sebagai bahan utama serta dedak, molases, dan EM4 sebagai bahan tambahan.
Sementara itu peralatan yang digunakan antara lain parang atau mesin pencacah untuk memotong hijauan, alat pemadat serta drum plastik atau kantong plastik silo sebagai wadah penyimpanan.
Proses pembuatan silase dimulai dengan panen hijauan pada kondisi cuaca cerah.
Hijauan kemudian dicacah dengan ukuran sekitar 5–10 sentimeter agar mudah dipadatkan dan mempercepat proses fermentasi. Setelah itu hijauan dapat dilayukan selama beberapa jam di bawah sinar matahari untuk menurunkan kadar air hingga sekitar 60–70 persen.
Tahap selanjutnya adalah mencampurkan hijauan dengan dedak dan molases secara merata di mana molases berfungsi sebagai sumber gula untuk mendukung aktivitas bakteri fermentasi.
Campuran bahan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam wadah penyimpanan secara bertahap dan dipadatkan setiap lapisan untuk mengeluarkan udara.
Setelah wadah terisi penuh, permukaan silase ditutup rapat menggunakan plastik dan wadah ditutup secara keseluruhan agar tercipta kondisi anaerob. Wadah kemudian diberi pemberat dan disimpan di tempat teduh selama 14 hingga 21 hari hingga proses fermentasi berlangsung sempurna.
Melalui pelaksanaan program silase jerami ini, mahasiswa KKN Reguler I Padang Ganting berharap masyarakat Jorong Rajo Dani dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh secara mandiri.
Program ini diharapkan mampu menjadi solusi jangka panjang dalam menjaga ketersediaan pakan ternak, meningkatkan produktivitas peternakan, serta mendukung ketahanan ekonomi masyarakat setempat secara berkelanjutan.
(Riyan Rizki Ramadhan, Mahasiswa KKN Reguler I Unand Fakultas Teknologi Pertanian Departemen Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian 2023)