PARIAMAN-Harapan warga Korong Padang Laring, Kenagarian IV Koto Aur Malintang Utara, Kecamatan IV Koto Aur Malintang, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, untuk menikmati jaringan telekomunikasi yang layak seakan tak kunjung menemukan titik terang.
Keluhan demi keluhan telah disampaikan, survei demi survei sudah dilakukan, namun hingga kini sinyal telepon seluler dari Telkomsel tetap saja lemah dan kerap hilang timbul.
Kondisi ini bukan persoalan baru. Warga mengaku sudah bertahun-tahun menghadapi masalah jaringan yang tak stabil. Ironisnya, setiap kali keluhan mencuat, pihak provider disebut datang melakukan survei. Namun, setelah itu, tak ada kejelasan tindak lanjut. Situasi ini memunculkan kekecewaan sekaligus tanda tanya besar tentang komitmen perusahaan dalam menjawab kebutuhan masyarakat di daerah.
“Sudah beberapa kali disurvei. Tapi hanya sebatas survei saja. Tidak ada realisasi perbaikan. Sinyal tetap saja sulit,” ujar Amril Nurman, salah seorang warga Padang Laring kepada media ini, Rabu (24/2/2026).
Menurut warga, kondisi sinyal yang tidak menentu sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Untuk sekadar melakukan panggilan telepon atau mengirim pesan, mereka harus mencari titik tertentu yang lebih tinggi. Tidak jarang, warga terpaksa berjalan ke lokasi tertentu demi mendapatkan sedikit jaringan agar bisa menghubungi keluarga, terutama yang berada di perantauan.
Padahal, sebelumnya wilayah tersebut pernah menikmati jaringan yang cukup baik. Hal itu terjadi saat masih berdirinya sebuah BTS di kawasan tersebut. Namun, BTS itu rusak setelah tersambar petir. Sejak saat itu, warga hanya mengandalkan pancaran sinyal dari BTS di Lubuk Basung, Kabupaten Agam, yang jaraknya cukup jauh sehingga kualitas jaringan menjadi tidak stabil.
Keterbatasan jaringan ini tidak hanya berdampak pada komunikasi personal, tetapi juga menghambat akses informasi, layanan publik, hingga aktivitas ekonomi masyarakat. Di era digital saat ini, jaringan internet dan telepon seluler bukan lagi kebutuhan sekunder, melainkan sudah menjadi kebutuhan dasar, termasuk untuk pendidikan dan usaha kecil masyarakat.
Walinagari IV Koto Aur Malintang Utara, Amri Besman, turut membenarkan kondisi tersebut. Ia menyatakan persoalan sinyal lemah di Korong Padang Laring sudah lama dilaporkan kepada pihak terkait, termasuk kepada provider. Bahkan, komunikasi secara langsung melalui telepon juga sudah beberapa kali dilakukan.
“Pihak Telkomsel sudah beberapa kali menghubungi saya. Saya sudah sampaikan keluhan masyarakat. Tapi ya itu, hanya sebatas komunikasi dan survei saja. Belum ada realisasi konkret,” ungkapnya.
Amri menegaskan, pemerintah nagari sangat terbuka jika memang kendala pembangunan BTS terletak pada persoalan lahan. Ia bahkan menyatakan kesediaannya membantu mencarikan lokasi atau media tanah untuk pendirian BTS baru demi memperbaiki kualitas jaringan di wilayahnya.
“Kami siap membantu jika persoalannya di lahan. Yang penting ada solusi nyata. Jangan masyarakat terus menunggu tanpa kepastian,” tegasnya.
Warga berharap pemerintah Kabupaten Padang Pariaman ikut turun tangan memfasilitasi komunikasi dengan pihak provider agar persoalan ini tidak terus berlarut. Mereka menilai, sudah saatnya ada langkah konkret, bukan sekadar survei berulang tanpa hasil.
Bagi masyarakat Padang Laring, persoalan sinyal bukan hanya soal kenyamanan, melainkan soal keterhubungan dengan dunia luar. Di tengah arus informasi yang serba cepat, mereka merasa tertinggal hanya karena infrastruktur jaringan yang tak kunjung dibenahi.
Kini, warga hanya bisa berharap agar suara mereka benar-benar didengar. Bukan lagi dijawab dengan survei, melainkan dengan pembangunan dan perbaikan nyata yang bisa mengakhiri bertahun-tahun kesulitan sinyal di daerah mereka.(Ab)