Ragam  

Mahasiswa KKN Unand Membangun Revitalisasi Budaya Literasi dan Peningkatan Kualitas Membaca Siswa SDN 17 Salimpaung Melalui Media Sastra Kreatif

Mahasiswa KKN bersama murid SD

Zaman berkembang dengan begitu pesat. Kita kini berdiri di sebuah era yang serba canggih dan modern, di mana segalanya berada dalam genggaman layar sentuh. Namun, dibalik kemudahan teknologi tersebut, terselip sebuah ironi yang memprihatinkan, lunturnya minat baca di kalangan generasi muda.

Buku-buku mulai berdebu di rak, digantikan oleh video singkat yang memanjakan mata namun seringkali tumpul secara makna. Fenomena ini menyebabkan banyak anak kehilangan gairah untuk belajar dan membaca, padahal literasi adalah pondasi utama bagi kecerdasan bangsa.

Kondisi ini tidak boleh dibiarkan menjadi kewajaran. Jika anak-anak berhenti membaca, mereka tidak hanya kehilangan informasi, tetapi juga kehilangan daya imajinasi dan kemampuan berpikir kritis. Membaca bukan sekadar mengeja huruf, melainkan sebuah proses menyelami pemikiran dan memperluas cakrawala dunia.

Mengembalikan rasa membaca dapat menyadari urgensi tersebut, langkah nyata harus diambil untuk menarik kembali perhatian anak-anak ke dunia aksara. Sebagai bentuk pengabdian, saya menginisiasi sebuah gerakan literasi yang dikemas secara kreatif di SDN 17 Salimpaung, Kabupaten Tanah Datar.

Lokasi ini dipilih dengan harapan dapat menjadi titik awal bangkitnya semangat belajar bagi siswa-siswi di daerah.
Program literasi yang dilaksanakan tidak lagi menggunakan metode konvensional yang kaku.

Mengingat latar belakang saya sebagai mahasiswa Sastra Indonesia yang juga menekuni bidang drama dan storytelling, pendekatan yang digunakan adalah Literasi Bermain dan Bercerita. Anak-anak tidak dipaksa untuk membaca dalam diam, melainkan diajak untuk merasakan kehadiran cerita tersebut melalui visualisasi dan aksi.

Di SDN 17 Salimpaung, saya berupaya menciptakan ekosistem belajar yang menyenangkan melalui beberapa tahap strategis yang mengintegrasikan seluruh aspek kebahasaan secara holistik.

Langkah awal dimulai dengan menghadirkan Panggung cerita interaksi, di mana teknik storytelling dan drama pendek digunakan untuk menghidupkan kembali naskah cerita rakyat asli Tanah Datar. Melalui pementasan ini, siswa diajak untuk mengasah kemampuan menyimak dengan

seksama dan keberanian berbicara saat berinteraksi dalam pertunjukan. Pengalaman visual dan auditori ini dirancang untuk membangkitkan rasa penasaran anak, sehingga mereka terdorong untuk mulai membaca buku-buku cerita lainnya secara mandiri tanpa merasa terbebani.

Semangat bahwa “literasi itu asyik dan menyenangkan” diperkuat melalui pengenalan literasi puisi yang ekspresif. Dalam sesi ini, siswa tidak hanya diajak mengenal rima dan bait, tetapi juga diajak untuk merasakan keindahan bahasa melalui deklamasi puisi yang penuh perasaan.

Aktivitas ini secara efektif menggabungkan keterampilan membaca pemahaman dengan kreativitas dalam menulis karya orisinal mereka sendiri. Dengan cara ini, puisi menjadi media bagi siswa untuk berani menyampaikan gagasan dan emosi, membuktikan bahwa berurusan dengan kata-kata adalah sebuah petualangan kreatif yang menghibur, bukan sekadar tugas sekolah yang kaku.

Dengan lingkungan yang mendukung, sekolah kini menjadi rumah bagi imajinasi mereka, di mana setiap sudutnya mengundang siswa untuk mengeksplorasi dunia lewat buku. Rangkaian program ini ditutup dengan Workshop literasi Kreatif, sebuah ruang bagi siswa untuk melatih kemampuan menulis kembali narasi yang telah mereka simak dengan gaya bahasa mereka sendiri.

Melalui sinergi antara kegiatan membaca, menulis, menyimak, dan berbicara ini, siswa di SDN 17 Salimpaung diharapkan dapat menemukan kebahagiaan dalam belajar dan menjadikan literasi sebagai bagian tak terpisahkan dari keseharian mereka.

Melalui program ini, pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa teknologi tidak seharusnya membunuh literasi. Sebaliknya, kecanggihan zaman harus kita manfaatkan sebagai alat untuk menyebarkan semangat membaca dengan cara-cara baru yang lebih relevan.

Membangkitkan kembali literasi di SDN 17 Salimpaung adalah sebuah langkah kecil untuk sebuah impian yang besar. Kita ingin melihat anak-anak Salimpaung kembali memegang buku dengan mata yang berbinar, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dan tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya mahir menggunakan gawai, tetapi juga memiliki kedalaman berpikir yang lahir dari kebiasaan membaca. Sebab, pada akhirnya, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai setiap kata yang tertulis dalam sejarah dan pengetahuannya. (Yuliani Tiara, Mahasiswi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)

Exit mobile version